25 Juni 2018
  • Kuliner / Travel

Siapa yang belum pernah dengar soal pempek? Makanan tradisional berbahan dasar ikan ini begitu fenomenal. Sebagian orang akan langsung mengasosiasikannya dengan Kota Palembang, kota asal pempek ketika mendengar namanya. Sampai ada yang mengatakan bahwa orang Palembang belum sarapan jika belum menghirup cuko—kuah pedas-manis pelengkap hidangan pempek. Selain karena rasanya yang enak dan jenisnya yang beragam, harganya pun mampu dijangkau semua kalangan.

 

Sejarah Pempek

Pempek ini dulunya bernama Kelesan. Maksud dari kelesan adalah makanan yang bisa disimpan, atau tahan lama. Terus dari mana nama pempek berasal, jika nama aslinya asalah kelesan? Ternyata, nama pempek berasal dari sebutan pembeli kepada penjual kelesan. Menurut cerita rakyat, pempek telah ada sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke enam belas, sewaktu Sultan Mahmud Badarudin II berkuasa di era Kesultanan Palembang Darussalam. Nama empek–empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “Apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina. Karena, saat itu pempek dijual oleh para “Apek” ini.

 

Butuh Keahlian Khusus dalam Proses Pembuatannya

Untuk membuat pempek yang lembut, enak, dan tahan lama, dibutuhkan keahlian khusus dalam setiap proses pembuatannya. Mulai dari pemilihan ikan sebagai bahan baku, hingga pengemasan atau penyimpanan. Tak heran, jika banyak orang yang pertama mencoba membuat pempek, hasilnya terasa lebih keras atau alot.

 

Macam Pempek

Pempek pada awalnya dibuat dari daging ikan belida yang dicampur tepung kanji. Namun seiring dengan zaman, daging ikan belida makin sulit diperoleh, sehingga para pembuat pempek beralih menggunakan daging ikan lain  seperti tenggiri, kakap dan toman. Bahkan di wilayah lain di Sumsel seperti Muara Sungsang, pempek dibuat dari daging udang. Beberapa pedagang pempek kini juga menjual pempek yang tidak menggunakan daging ikan yang disebut pempek dos. Namun terlepas dari bahan apa pun yang digunakan, pempek selalu disajikan berdampingan dengan cuko, larutan pedas-manis yang menjadi pelengkap citarasa pempek.

Pempek memiliki varian yang sangat banyak, mulai dari pempek lenjer, pempek ada’an, pempek telur, pempek pistel, pempek keriting, pempek tahu, pempek belah hingga pempek kulit. Masing-masing pempek dibuat dengan bentuk dan bahan tambahan yang berbeda yang menjadi ciri khas masing-masing jenis. Pempek kulit, misalnya, dibuat dengan hanya memanfaatkan bagian kulit ikan (biasanya tenggiri), sehingga warnanya cenderung abu-abu atau cokelat gelap. Pempek dapat disajikan dengan direbus atau digoreng sesuai dengan selera. Selain pempek yang direbus atau digoreng, dikenal pula varian pempek lain yang disajikan dengan kuah, seperti laksan, celimpungan, tekwan dan model.

 

Penunjang Ekonomi Tertinggi di Palembang

Banyaknya Industri yang menjalankan bisnis ini, membuat pempek jadi produk penunjang ekonomi tertinggi di Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Selatan menyebutkan, 6 sampai 8 ton pempek keluar dari Palembang setiap harinya. Jumlah ini diprediksi meningkat karena perhelatan Asian Games di Palembang Agustus mendatang.

 

Cuka mengandung Fluor yang bagus untuk email gigi

Kalian tentu pernah ngerasain dong, beda makan pempek dengan cuko dan menghirup langsung kuah cuko? Nah pertanyaannya, ada nggak kira-kira pengaruhnya terhadap kesehatan gigi ya? Nyatanya bahwa kebiasaan mengonsumsi pempek yang dibubuhi kuah asam manis mengandung cuka dapur, bumbu gula merah, ebi ternyata tidak mutlak menyebabkan gigi rusak. Rempah-rempah yang ada di dalamnya diketahui mampu melindungi gigi dari karies kok bisa ya?

Didalam kuah cuka yang berasa asam-manis itu diketahui terdapat senyawa fluor dalam kadar relatif tinggi. Bagi orang dewasa, disarankan mengkonsumsi pempek setiap minggu untuk menjaga tubuh agar tidak kekurangan kandungan fluor, karena menurut penelitian, kandungan fluor dalam air minum masyarakat Palembang sangat rendah.

Bagikan Kesegarannya

Tinggalkan Komentar