28 November 2018
  • Kuliner / Travel

Hampir seluruh masyarakat Indonesia menjadikan nasi sebagai makanan pokok, yang kehadirannya tak pernah absen disetiap hidangan keluarga. Bahkan sebagian orang menganggap kalau makan tanpa kehadiran nasi itu kurang afdol rasanya.

Namun berbeda halnya dengan masyarakat yang tinggal di Indonesia bagian Timur, salah satunya di Papua. Mereka menjadikan sagu sebagai makanan utama yang menggantikan nasi, kemudian mengolahnya menjadi sesuatu hidangan lezat yang bernama papeda. Ada yang pernah dengar makanan yang namanya Papeda?

Papeda bukanlah nama baru di dunia kuliner Nusantara, sebab sajian ini sudah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi penerusnya sebagai pendamping lauk pauk. Papeda merupakan salah satu makanan khas dari Papua yang di buat dengan bahan dasar sagu.

Sekilas, kalau kalian melihat Papeda, kalian seperti melihat bubur lem berwarna pekat putih yang kental. Rasanya? Agak hambar dan tawar memang, namun akan menjadi pas bila disandingkan dengan hidangan populer pelengkap Papeda yaitu ikan kuah kuning. Ini adalah ikan yang dimasak dengan campuran kuah tertentu.

Biasanya ikan kuah kuning ini dibuat dari ikan cakalang, gabus, atau tongkol dengan menggunakan kunyit, jeruk nipis atau belimbing wuluh dalam campuran rebusan kuahnya. Bila disandingkan dengan ikan kuah kuning ini, cita rasa yang didapat dalam menyantap Papeda menjadi gurih, asam, namun segar.

Selain itu sebagai pelengkap, biasanya dihidangkan bersama sayur ganemo. Ganemo adalah sebutan untuk daun mlinjo muda yang ditumis bersama bunga pepaya serta cabai merah.

Cara membuat papeda sangat sederhana, namun bagi yang belum terbiasa mungkin agak sedikit kesulitan dalam mengolahnya, awalnya tepung sagu yang sudah dipilih kemudian di aduk-aduk sambil di siram dengan air mendidih sampai tercampur rata dan mengental atau lengket seperti lem kertas. Air yang di campurkan pun tidak boleh terlalu banyak karena akan membuat papeda cair. Kualitas dari sagu juga akan sangat berpengaruh pada papeda yang di hasilkan.

 

Cara pengambilan papeda pun terbilang unik karena tidak menggunakan sendok, tetapi menggukan kayu atau bambu seperti sumpit, masyarakat Papua menyebutnya Gata-Gata. Papeda di ambil dengan menggunakan sepasang Gata-gata dan kemudian di gulung – gulung hingga berbentuk bulat dan kemudian di lepaskan di atas piring.

Tidak hanya cara pengambilan dan rasa saja yang unik dari kuliner yang satu ini, tetapi cara makannya juga sangat unik. Bagi masyarakat Papua yang sering kali menyantap papeda mereka biasanya menyantap papeda tidak menggunakan sendok maupun tangan tetapi memakannya langsung dari piringnya, karena makan papeda tidak lagi di kunyah tetapi langsung di telan saja. Namun hal ini biasanya di lakukan hanya bagi mereka yang sudah terbiasa, bagi yang belum terbiasa tidak apa-apa jika ingin menggunakan sendok.

Di balik ini semua, Papeda mempunyai manfaat kesehatan yang luar biasa. Secara ilmiah, papeda mempunyai kandungan karbohidrat setara dengan beras, memiliki serat yang tinggi, rendah kolesterol dan bernutrisi tinggi.

Konon, masyarakat setempat telah membuktikan bahwa Papeda mampu mengatasi pengerasan pembuluh darah, sakit ulu hati dan perut kembung. Bahkan, tingginya kadar serat dalam sagu mampu meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi resiko terjadinya kanker usus, kanker paru-paru, kegemukan dan dapat memperlancar buang air besar.

Jadi, penasaran ingin menyantap Papeda?

Nikmat sekali rasanya bisa menikmati papeda asli dari Papua. Bagi kalian yang berkunjung ke Papua jangan pernah melewatkan menu yang satu ini.

Bagikan Kesegarannya

Tinggalkan Komentar