01 Juli 2020
  • Gaya Hidup

Sejak bertahun-tahun lalu, drama Korea sudah dapat tempat istimewa di hati para penonton Indonesia. Belakangan, ketika pandemi corona melanda dan semua harus tetap di rumah untuk mencegah penyebaran virus meluas, waktu buat nonton drakor makin banyak.

Orang-orang yang dulunya nggak suka nonton drakor pun mendadak ikut menikmati. Awalnya dari iseng mengisi waktu luang, lalu ketagihan dan nimbrung ngobrolin cerita Landing Crash on You atau The World of Marriage yang lagi booming.

Well, Indonesia sebenarnya juga punya sinetron yang ditayangkan di berbagai stasiun televisi. Tapi kenapa banyak yang lebih suka ngomongin drama Korea dibandingkan produksi lokal ya? Mungkin beberapa hal berikut ini jadi penyebabnya.

Naskah Kece dan Alur Cerita yang Nggak Berbelit-Belit

Sinetron Indonesia tuh, kalau nggak urusan tengkar sama tetangga, jambak-jambakan dengan mertua, rebutan harta. Ada yang mengangkat tema berbeda, tetapi kebanyakan ujungnya berbelit-belit dan gitu-gitu aja.

Sementara di drama Korea, kita bisa nonton tema kriminal, militer, anak sekolah, horror, fantasi, misteri hingga perselingkuhan seperti The World of Marriage yang sedang heboh. Naskahnya ditulis dengan baik, bahkan untuk drama komedi romantis yang receh sekalipun.

Teknik Pengambilan Gambar Gak Sekadar Zoom In Mata Melotot

Yang nyenengin dari drama Korea itu teknik pengambilan gambar yang ciamik. Mereka menyorot berbagai angle, nggak sekadar zoom in mata melotot ketika karakternya marah. Detail-detail terkecil pun mereka perhatikan, mulai dari tetesan air hujan hingga ambience di sekitar karakter yang tengah disorot.

Pergerakan gambarnya pun smooth, dengan teknik editing mumpuni. Ketika hujan turun, nggak kelihatan banget kalau itu buatan kayak di sinetron Indonesia gitu, lho. Efeknya bisa jadi sangat romantis, bukan sekadar hujan lokal.

Setting Lokasi Nggak di Situ-Situ Aja

Di drama Korea, syuting nggak berlangsung di dalam studio atau satu lokasi saja. Mengambil gambar di luar kota, bahkan di luar negeri pun dijabanin demi mendapatkan lokasi yang tepat sesuai dengan naskah.

Jadi pemandangan yang tampak nggak cuma jalanan kecil di perumahan sepi, kampung yang itu-itu saja, atau rumah sama dari satu sinetron ke sinetron lain. Termasuk adegan di dalam mobil, nggak sekadar setir digoyang-goyang dan pohonnya kelihatan hasil dari editan green screen, tapi betulan terasa di jalan raya dengan segala keramaiannya.

Endingnya Kapan Udah Ketahuan Sejak Awal Produksi

Capek kan nonton sinetron yang episodenya ratusan atau bahkan ribuan, sudah 3 tahun nggak kelar-kelar dan tak tahu kapan endingnya datang. Hal ini jarang ada di drama Korea yang disebar ke luar negeri. Mereka punya sih, drama dengan episode yang panjang, tapi jumlahnya tetap nggak sampai ribuan kayak di sini.

Kebanyakan, berapa jumlah episode yang bakal ditayangkan sudah diumumkan sejak awal produksi dimulai. Kalaupun mendadak ada tambahan, biasanya jumlahnya nggak lebih dari 4 episode. Jadi penonton sudah tahu mulai tayangnya kapan, endingnya tanggal berapa.

Akting Para Pemain Sama Profesional Seperti Film Layar Lebar

Nggak bisa dipungkiri, akting para pemain sinetron di Indonesia masih jauh kualitasnya dari para bintang film layar lebar. Tetapi di Korea, akting para pemain drama nggak kalah dengan pemain filmnya. Bahkan nggak sedikit yang menjalani dua profesi sekaligus, ya main drama, jadi bintang film juga.

Mereka membawakan peran dengan sama seriusnya ketika berakting di layar lebar. Sehingga emosi penonton pun ikut teraduk-aduk, larut dalam akting yang dibawakan oleh para pemainnya. Rasanya ikut marah ketika Ji Sun-Woo dikhianati oleh Lee Tae-Oh di episode-episode The World of Marriage! Emosi jadi meluap dan kepala ikut panas.

Tenang, dinginkan kepala dan badan kamu dengan Lasegar dulu. Ambil rasa jeruk, melon, jeruk nipis, leci atau jambu, biar hati jadi tenang dan panas dalam pun hilang. Jangan sampai emosi nonton The World of Marriage bikin kamu jadi panas hati ya, guys.

Bagikan Kesegarannya

Tinggalkan Komentar