23 September 2020
  • Gaya Hidup

Banyak yang bilang angkatan corona ini istimewa. Alasannya banyak, salah satunya adalah naik kelas dan lulus tanpa ujian karena sekolah sedang diadakan dari rumah. Jadi kayak dapat bonus ya, tahu-tahu lulus tanpa perlu berjuang.

Tapi alih-alih istimewa, sepertinya angkatan corona ini bisa dibilang cukup ‘apes’. Naik kelas dan lulus nggak pakai ujian memang menyenangkan sih, tapi ada juga hal menyedihkan yang bikin angkatan ini nggak bisa sepenuhnya disebut istimewa.

Yang Lahir Sekitaran Tahun 1998, Indonesia Sedang Krisis Moneter

Mereka yang sekarang sedang duduk di bangku kuliah tingkat akhir, sebagian besar kelahiran tahun 1998. Kala itu, Indonesia sedang krisis moneter parah, harga-harga naik dan kerusuhan sempat terjadi di berbagai kota. Masa kecil mereka berlangsung dengan penuh perjuangan dan susah mau traveling seperti sekarang, Sobat.

Nah, ternyata penderitaan itu harus dirasakan lagi ketika mereka memasuki usia boleh main ke mana saja tapi nggak boleh karena ada corona. Sedih banget kan?

Anak SD, SMP dan SMA Kena Sistem Nilai Paket

Nggak ujian itu asli menyenangkan. Tapi seharusnya Indonesia baru meniadakan ujian akhir pada 2021 mendatang. Jadi ketika tahun 2020 mendadak meniadakan ujian, sistemnya belum siap Sobat. Akhirnya, nilai diputuskan dari paket semester sebelumnya. Yang lulus, nilainya didapatkan dari rata-rata semester 1 – 5 kemudian ditambahkan nilai dari semester akhir dan rerata sekolah.

Beruntung deh buat yang nilainya bagus sejak awal bagus. Sementara yang nilainya pas-pasan dan rerata sekolahnya pun rendah, cuma bisa gigit jari buat masuk ke jenjang berikutnya yang masih butuh nilai tinggi untuk bisa menembus ketatnya persaingan di sekolah negeri.

Pas Lulus Kayaknya Keren Tanpa Ujian Nyatanya Lebih Susah Kena Sistem Zonasi

Lulusnya memang gampang sih, tahu-tahu dapat ijazah dan surat keterangan lulus dari sekolah. Tapi perjuangan angkatan corona untuk mendapatkan sekolah lanjutan nggak berhenti sampai dapat ijazah saja, Sobat.

Tahun 2020 ini, Kemendiknas masih belum menghapus sistem zonasi. Artinya, berapapun nilai seorang siswa, selama jarak ke sekolah sangat dekat maka akan dapat kursi. Sementara yang rumahnya jauh dari zona sekolah, harus berjuang masuk memakai nilai yang kuotanya sangat terbatas.

Perjuangannya pun cukup menantang, karena nggak sekali saja sistemnya error akibat overload. Akhirnya beberapa sekolah mengadakan penerimaan siswa baru secara offline, dan orangtua berkerumun di masa pandemi yang berbahaya ini. Sulit juga ya, Sobat.

Nggak Punya Kenangan Perpisahan Lulus Sekolah

Biasanya setelah ujian kelulusan, ada wisuda dan prom night buat yang sudah SMP atau SMA. Tapi tahun ini wisuda dan semua acara perpisahan ditiadakan agar tidak terjadi kerumunan yang bisa menjadi pusat penyebaran virus corona.

Wisuda dilakukan secara online, jadinya nggak ada foto bareng teman yang bisa jadi kenang-kenangan. Prom night dan acara perpisahan hanya jadi angan-angan, bahkan bertemu teman pun nggak bisa dilakukan secara langsung. Ada teknologi video call dan edit foto biar kayak bareng-bareng sih, tapi ketawa langsung bareng teman itu nuansanya beda banget , jadi pasti sedih.

Tapi, nggak bisa dipungkiri kalau angkatan corona ini adalah mereka-mereka yang tangguh. Jika sukses melewati masa sulit ini, pastinya bisa menghadapi hari-hari ke depan dengan baik.

Bagikan Kesegarannya

Tinggalkan Komentar