30 November 2018
  • Gaya Hidup

Parenting atau pola asuh pada anak akan terus berkembang sesuai zaman. Bukan hanya teknologi yang selalu berganti dan berubah, budaya, nilai, dan perilaku, juga ikut berubah. Tak terkecuali dengan pola asuh orangtua kepada anak-anaknya. Setiap keluarga punya cara untuk mendidik anaknya masing-masing. Ada yang keras, ada juga yang lebih membebaskan anaknya.

Uniknya generasi milenial yang lahir di tahun 1981 – 2000 mendapatkan didikan yang keras dari orang tuanya, yaitu generasi baby boomers (lahir diatas tahun 1960). Nah kalau generasi milenial sendiri bagaimana ya cara mendidik anaknya?

Ternyata generasi milenial punya cara sendiri untuk mendidik anak. Mungkin dipengaruhi kerasnya didikan yang diterimanya dulu, mayoritas generasi ini mendidik dengan cara membebaskan anaknya untuk berekspresi. Orang tua zaman sekarang juga punya cara mendekatkan anak dengan cara yang lebih positif, atau yang dikenal dengan positive parenting. Pola asuh ini lebih membantu membangun disiplin anak secara efektif dengan interaksi yang menyenangkan.

 

Berbagi di Media Social

Sebagai generasi millennials, orang tua pasti sudah akrab dengan media sosial, bukan? Melalui media sosial orang tua melakukan social sharing dengan berbagi mengenai cara mendidik. Orang tua millennials memanfaatkan media sosial untuk saling berbagi informasi, dengan menekankan bahwa setiap anak berbeda, sehingga tidak ada cara mendidik yang salah atau benar.

 

Memberikan Contoh

Orang tua akan menjadi model yang baik dan mengajari dengan teladan. Misalnya, saat bekerja di rumah, orang tua menghindari banyak mengeluh sehingga anak pun bisa mengikuti dengan belajar tanpa banyak mengeluh.

 

Menolak Kebenaran Tunggal

Dengan pikiran terbuka, para orangtua millennial mengakui tidak ada cara tunggal yang benar untuk membesarkan anak. Ketersediaan buku-buku (dan internet) memberikan kekayaan sumber daya, ide-ide pengasuhan yang berbeda, dan perspektif budaya yang beragam. Dari situ mereka dapat mempertimbangkan segala macam informasi dan opini untuk menciptakan gaya parenting yang lebih individual, sesuai kebutuhan hidup keluarga masing-masing.

 

Lebih Reflektif

Tidak seperti generasi pendahulunya yang terlalu mengekang anak, orangtua millennial mengutamakan pendekatan yang rileks dan responsif terhadap anak. Mereka menghargai waktu bermain yang tidak terstruktur, sama pentingnya dengan aktivitas yang lain. Mereka juga memberikan anak ruang yang mereka butuhkan untuk belajar dan tumbuh secara mandiri. Perbedaan juga terlihat dari cara orangtua millennial menerapkan relasi keluarga yang lebih demokratis. Mereka mempertanyakan diri mereka sendiri dan meminta masukan anak-anak sebelum mengambil keputusan. Plus, orangtua generasi ini menekankan fokus baru pada empati, untuk membantu anak berinteraksi dan memahami dunia mereka dengan baik.

 

Memberikan konsekuensi yang logis, disiplin yang konsisten dan jelas, serta bersikap tegas. 

Misalnya, kalau anak tidak mau belajar, kalian bisa memberikan perumpamaan, seperti berkata, bila kalian tidak belajar sekarang, besok kalian harus terburu-buru belajarnya. Namun, kalau kalian belajar sekarang, kalian pun bisa mengerjakan soal dengan lebih tenang.

 

Berikan cinta tanpa syarat. 

Kita perlu memahami kalau anak memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Cintai mereka apa adanya dan bantu kembangkan kekurangan mereka agar tetap percaya diri.

 

Tidak hanya berfokus pada sekolah formal

Generasi millennial dibesarkan pada lingkungan yang bersifat membangun dan fleksibel. Serta memiliki informasi tak terbatas melalui gadget yang dapat diakses kapan saja. Generasi ini percaya bahwa pendidikan tidak hanya melalui sekolah formal. Hal tersebut menyebabkan orang tua millennials lebih terbuka pada banyak pilihan pendidikan saat ini, seperti kursus online, website pendidikan, dan sekolah alam.

 

Kolaborasi dengan anak

Banyak orang tua millennials melibatkan anak dalam proses mendidik. Hal tersebut dilakukan agar anak bisa berbagi emosi yang dirasakan. Selain itu, orang tua millennials melibatkan anak mereka dalam pengambilan keputusan, tujuannya agar anak belajar untuk bernegosasi. Tentu saja keterlibatan anak ini selalu dibimbing oleh orang tua.

 

Apakah kalian termasuk dalam kategori orang tua generasi millennials?

Bagikan Kesegarannya

Tinggalkan Komentar